Selasa, 04 April 2017

Metode Permainan Dalam Pembelajaran Matematika
(Disusun oleh : Dina Oftaviana)

Seorang guru menyampaikan pertanyaan berikut kepada murid – muridnya.
“Sepuluh ekor burung bertengger pada kawat telepon. Datanglah seorang pemburu, lalu ditembaknya burung – burung itu. Sekali tembak kena lima ekor. Berapa burung dibawa pulang oleh pemburu itu?”
Bagaimana jawabannya? Mungkin seorang murid menjawab, “Lima”. Alasannya adalah hanya lima ekor burung itu saja yang kena tembak. Murid lain mengatakan tidak ada dengan alasan yang kena tembak hanya ekornya saja. Masih banyak jawaban lain dan semua beralasan pula.
Guru lain menyuruh tiap murid menuliskan hitungan sesuai dengan suruhannya tanpa mengatakan apa yang dihitungnya. Suruhan tersebut adalah demikian.
            “Tulislah bilangan banyak adikmu”
            “Tambahan itu dengan tiga”
            “Kalikann dua”
            “Sekali lagi, kalikan empat”
            “Sekarang, bagi empat”
            “Terakhir, kurangi delapan”
Kemudian Guru bertanya kepada Andi.
          Guru : “Berapa hasil akhir yang kau peroleh?”
          Andi : “Sepuluh”
           Guru : “Jadi adikmu tiga orang, bukan?”
          Andi : “ya, Bu”
          Semua anak yang menyebutkan hasil akhir hitungnya dapat ditebak dengan benar banyak adik masing – masing oleh Bu Guru.
          Kedua contoh di atas merupakan permainan. Hal seperti itu disenangi anak – anak. Yang pertama jawabannya bermacam – macam, asal alasannya dapat diterima. Yang kedua juga dapat berbeda – beda, tergantung dari bilangan hasil perhitungan yang diperoleh anak – anak.
          Dalam pengajaran matematika, contoh pertama tidak disebut permainan matematika. Macam ini hanya digolongkan kepada teka – teki saja. Sedang yang kedua disebut permainan matematika.
          Permainan matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional pengamatan matematika. Tujuan ini dapat menyangkut aspek kognitif, psikomotor, atau afektif.
          Dienes (dalam Ruseffendi, 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan di antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan diantara struktur-struktur. Seperti halnya dengan Bruner, Dienes mengemukakan bahwa tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang konkret akan dapat dipahami dengan baik. Ini mengandung arti bahwa jika benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.
          Menurut Dienes, permainan matematika sangat penting sebab operasi matematika dalam permainan tersebut menunjukkan aturan secara kongkret dan lebih membimbing dan menajamkan pengertian matematika pada anak didik. Dapat dikatakan bahwa objek-objek kongkret dalam bentuk permainan mempunyai peranan sangat penting dalam pembelajaran matematika jika dimanipulasi dengan baik. Makin banyak bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsep-konsep tertentu, akan makin jelas konsep yang dipahami anak, karena anak-anak akan memperoleh hal-hal yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu.
          Permainan yang mengandung nilai matematika dapat meningkatkan keterampilan, penanaman konsep, pemahaman dan pemantapannya; meningkatkan kemampuan menemukan, memecahkan masalah, dan lain-lain.  Metode permainan sama dengan metode-metode lain yang memerlukan perumusan tujuan instruksional yang jelas, penilaian topik atau subtopik, perincian kegiatan belajar mengajar, dan lain-lain. Selanjutnya hindari permainan yang bersifat teka-teki atau yang tidak ada nilai matematikanya.
          Walaupun permainan matematika menyenangkan penggunaannya harus dibatasi, tidak dilaksanakan seingatnya saja. Barangkali sekali – kali dapat juga diberikan untuk mengisi waktu, mengubah suasana “tekanan tinggi”, dan menimbulkan minat, dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang jelas, tepat penggunaannya, dan tepat pula waktunya.
Kelebihan metode permainan ;
a.  Melatih anak untuk mendramatisasikan sesuatu serta melatih keberanian
b. Metode ini akan menarik perhatian anak sehingga suasana kelas menjadi hidup.
c.  Anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
d. Anak dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur.
Kelemahan metode permainan ;
a.  Tidak semua topik dapat disajikan melalui permainan.
b. Memerlukanbanyak waktu
c.  Penentuan kalah menangdan bayar-membayar dapat berakibat negatif.
d. Mungkin juga terjadi pertengkaran
e.  Mengganggu ketenangan belajar di kelas-kelas lain.

Daftar Pustaka
Suherman, Erman dan Udin S. Winataputra. 1994. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka, Deapartemen Pendidikan dan Kebudayaan. 

 

World Of Dina Template by Ipietoon Cute Blog Design