Metode Permainan Dalam Pembelajaran
Matematika
(Disusun oleh : Dina Oftaviana)
Seorang guru menyampaikan pertanyaan
berikut kepada murid – muridnya.
“Sepuluh ekor burung bertengger pada kawat
telepon. Datanglah seorang pemburu, lalu ditembaknya burung – burung itu. Sekali
tembak kena lima ekor. Berapa burung dibawa pulang oleh pemburu itu?”
Bagaimana jawabannya? Mungkin seorang murid
menjawab, “Lima”. Alasannya adalah hanya lima ekor burung itu saja yang kena
tembak. Murid lain mengatakan tidak ada dengan alasan yang kena tembak hanya
ekornya saja. Masih banyak jawaban lain dan semua beralasan pula.
Guru lain menyuruh tiap murid menuliskan
hitungan sesuai dengan suruhannya tanpa mengatakan apa yang dihitungnya. Suruhan
tersebut adalah demikian.
“Tulislah
bilangan banyak adikmu”
“Tambahan
itu dengan tiga”
“Kalikann
dua”
“Sekali
lagi, kalikan empat”
“Sekarang,
bagi empat”
“Terakhir,
kurangi delapan”
Kemudian Guru bertanya kepada Andi.
Guru
: “Berapa hasil akhir yang kau peroleh?”
Andi
: “Sepuluh”
Guru : “Jadi adikmu tiga orang, bukan?”
Andi
: “ya, Bu”
Semua
anak yang menyebutkan hasil akhir hitungnya dapat ditebak dengan benar banyak
adik masing – masing oleh Bu Guru.
Kedua
contoh di atas merupakan permainan. Hal seperti itu disenangi anak – anak. Yang
pertama jawabannya bermacam – macam, asal alasannya dapat diterima. Yang kedua
juga dapat berbeda – beda, tergantung dari bilangan hasil perhitungan yang
diperoleh anak – anak.
Dalam
pengajaran matematika, contoh pertama tidak disebut permainan matematika. Macam
ini hanya digolongkan kepada teka – teki saja. Sedang yang kedua disebut
permainan matematika.
Permainan
matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang
tercapainya tujuan instruksional pengamatan matematika. Tujuan ini dapat
menyangkut aspek kognitif, psikomotor, atau afektif.
Dienes
(dalam Ruseffendi, 1992) berpendapat bahwa pada dasarnya matematika dapat
dianggap sebagai studi tentang struktur, memisah-misahkan hubungan-hubungan di
antara struktur-struktur dan mengkategorikan hubungan-hubungan diantara
struktur-struktur. Seperti halnya dengan Bruner, Dienes mengemukakan bahwa
tiap-tiap konsep atau prinsip dalam matematika yang disajikan dalam bentuk yang
konkret akan dapat dipahami dengan baik. Ini mengandung arti bahwa jika
benda-benda atau objek-objek dalam bentuk permainan akan sangat berperan bila
dimanipulasi dengan baik dalam pengajaran matematika.
Menurut
Dienes, permainan matematika sangat penting sebab operasi matematika dalam
permainan tersebut menunjukkan aturan secara kongkret dan lebih membimbing dan
menajamkan pengertian matematika pada anak didik. Dapat dikatakan bahwa
objek-objek kongkret dalam bentuk permainan mempunyai peranan sangat penting
dalam pembelajaran matematika jika dimanipulasi dengan baik. Makin banyak
bentuk-bentuk yang berlainan yang diberikan dalam konsep-konsep tertentu, akan
makin jelas konsep yang dipahami anak, karena anak-anak akan memperoleh hal-hal
yang bersifat logis dan matematis dalam konsep yang dipelajarinya itu.
Permainan
yang mengandung nilai matematika dapat meningkatkan keterampilan, penanaman
konsep, pemahaman dan pemantapannya; meningkatkan kemampuan menemukan,
memecahkan masalah, dan lain-lain.
Metode permainan sama dengan metode-metode lain yang memerlukan
perumusan tujuan instruksional yang jelas, penilaian topik atau subtopik,
perincian kegiatan belajar mengajar, dan lain-lain. Selanjutnya hindari
permainan yang bersifat teka-teki atau yang tidak ada nilai matematikanya.
Walaupun
permainan matematika menyenangkan penggunaannya harus dibatasi, tidak
dilaksanakan seingatnya saja. Barangkali sekali – kali dapat juga diberikan
untuk mengisi waktu, mengubah suasana “tekanan tinggi”, dan menimbulkan minat,
dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang jelas,
tepat penggunaannya, dan tepat pula waktunya.
Kelebihan metode permainan ;
a. Melatih anak untuk mendramatisasikan
sesuatu serta melatih keberanian
b. Metode ini akan menarik perhatian anak
sehingga suasana kelas menjadi hidup.
c.
Anak dapat menghayati suatu peristiwa sehingga mudah
mengambil kesimpulan berdasarkan penghayatan sendiri.
d.
Anak dilatih untuk menyusun pikirannya dengan teratur.
Kelemahan metode permainan ;
a. Tidak semua topik dapat disajikan melalui
permainan.
b. Memerlukanbanyak waktu
c. Penentuan kalah menangdan bayar-membayar
dapat berakibat negatif.
d. Mungkin juga terjadi pertengkaran
e. Mengganggu ketenangan belajar di kelas-kelas
lain.
Daftar
Pustaka
https://estiprastikaningsih.wordpress.com/2013/01/18/metode-permainan-dalam-pembelajaran-matematika/
Suherman, Erman dan Udin S. Winataputra.
1994. Strategi Belajar Mengajar Matematika. Jakarta: Universitas Terbuka,
Deapartemen Pendidikan dan Kebudayaan.
0 komentar:
Posting Komentar