MAKALAH
LANDASAN
ILMU KEPEDIDIKAN
“PENDIDIKAN
KARAKTER DI LINGKUNGAN PENDIDIKAN DAN PERANNYA DALAM MEMBANGUN BANGSA”

DISUSUN
OLEH :
DINA
OFTAVIANA
(3115140541)
PENDIDIKAN
MATEMATIKA BILINGUAL
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Akhir-akhir ini istilah pendidikan karakter banyak
dibicarakan orang. Mulai dari para pejabat Kementrian Pendidikan Nasional,
kepala dinas pendidikan di daerah, sampai pengawas pendidikan ramai membahas
istilah yang satu ini. Booming
istilah pendidikan karakter juga
merambah pada wilayah kegiatan seperti seminar, pelatihan, ataupun workshop.
Kegiatan ini diiringi dengan berkembangnya wacana pengembangan kurikulum
sekolah berbasis pendidikan karakter yang diiplementasikan melalui kurikulum
tingkat satuan pendidikan (KTSP). Berkembangnya wacana pendidikan karakter yang
juga menyibukkan para guru yang harus menyusun dan mengaplikasikan silabus
serta rencana program pembelajaran berbasis karakter.
Semenjak runtuhnya Orde Baru pada 1998, spertinya tidak
banyak kemajuan yang kita capai. Dunia pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan
politik secara umum tetap sibuk dengan persoalan internal yang tidak mudah
diurai. Energi lebih banyak dikeluarkan untuk menyelesaikan persoalan demi
persoalan dan bukannya untuk membangun strategi dan aksi kemajuan.
Di sisi lain berita, diberbagai media di dominasi oleh
aspek negatif, seperti konflik, korupsi, penyimpangan penggunaan dana,
tawar-menawar politik, saling serang antarpemimpin dan seterusnya. Kondisi
semacam ini terus saja menghiasi pemberitaan dan ulasan media, baik televisi,
media cetak, maupun dunia maya. Rasanya sangat jarang ada pemberitaan yang
mencerahkan dan memberikan optimisme. Misalnya, bagaimana gambaran kehidupan
bangs ini beberapa tahun ke depan, bagaimana usaha-usaha positif dan kontruktif
dalam berbagai bidang kehidupan, langkah-langkah membangun kemajuan, prestasi
yang telah dicapai, bagaimana mengatasi persoalan dan lain sebagainya.
Munculnya pendidikan karakter sebagai wacana baru
pendidikan nasional bukan merupakan fenomena yang mengagetkan. Sebab
perkembangan sosial politik dan kebangsaan sekarang ini cenderung menegasikan
karakter bangsa. Maraknya perilaku anarkis, tawuran antarwarga, penyalahgunaan
narkoba, pergaulan bebas, korupsi, kriminalitas, kerusakan lingkungan, dan
berbagai tindakan patoligi sosial lainnya menunjukkan indikasi adanya masalah
akut dalam bangunan karakter bangsa. Fenomena patologi sosial tersebut
bertentangan dengan visi dan misi pendidikan dalam membentuk manusia Indonesia yang
berkepribadian dan berakhlak mulia sebagaimana dicita-citakan dalam tujuan
pendidikan nasional.
Karakter menjadi salah satu harapan karena karakterlah
yang menjadi penopang perilaku individu dan komunitas. Karakter tidak terbentuk
secara tiba-tiba. Dibutuhkan proses panjang dan berkelanjutan agar karakter
dapat menjadi bagian integral dalam diri.
Agar mendapat kajian komperhensif tentang pendidikan
karakter, perlu adanya penyamaan persepsi tentang pendidikan karakter di
lingkungan pendidikan terlebih dahulu.
BAB II
RUMUSAN MASALAH
1.
Apakah pengertian karakter secara umum dan menurut para
ahli ?
2.
Apakah pengertian pendidikan karakter secara umum dan
menurut para ahli ?
3.
Apakah tujuan dan fungsi dari pendidikan karakter ?
4.
Bagaimana prinsip pendidikan karakter ?
5.
Apakah pilar-pilar dari pendidikan karakter ?
6.
Apakah landasan dari pendidikan karakter ?
7.
Sebutkan nilai-nilai pembentuk dalam pendidikan karakter
?
8.
Bagaimana pentingnya pendidikan karakter ?
9.
Bagaimana proses pembentukkan karakter terhadap anak ?
10. Apakah pengertian
lingkungan pendidikan ?
11. Bagaimana
pendidikan karakter di lingkungan keluarga?
12. Bagaimana pendidikan
karakter di lingkungan sekolah ?
13. Bagaimana pendidikan
karakter di lingkungan masyarakat ?
14. Bagaimana pendidikan
karakter oleh pemerintah ?
15. Bagaimana peran
karakter untuk membangun bangsa ?
BAB
III
PEMBAHASAN
3.1
Pengertian Karakter
Istilah karakter dihubungkan
dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan
dengan kekuatan moral, berkonotasi positif, bukan netral. Sedangkan Karakter
menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang
terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku (Kementrian Pendidikan Nasional, 2010). Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati,
olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.
Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut
dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang
dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter
dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis
yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses
perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak
faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor
bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh
dan berkembang. Faktor bawaan boleh
dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk
mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan
masyarakat dan individu.
Karakter dimaknai sebagai cara
berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama,
baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang
berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap
sebagai nilai-nilai perilaku manusia yangyang berhubungan dengan Tuhan Yang
Maha ESA, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang
terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika.
Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam
bersikap maupun dalam bertindak. Warsono
dkk. (2010) mengutip Jack Corley dan Thomas Philip (2000) menyatakan :
“karakter merupakan sikap dan kebiasaan seseorang yang memungkinkan dan
mempermudah tindakan moral”.
Sebagai identitas atau jati diri
bangsa, karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai
interaksi antara manusia. Secara universal berbagai karakter dirumuskan sebagai
nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar : kedamaian (peace), menghargai (respect),
kerjasama (cooperation), kebebasan (freedom), kebahagiaan (happiness), kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kasih sayang (love), tanggung jawab (responsibility), kesederhanaan (simplicity), toleransi (tolerance), dan persatuan (unity).
Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai
cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup
dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun
negara.
Karakter
adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli dan
mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta merupakan “mesin”
yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon
sesuatu (Kertajaya, 2010).
Menurut
kamus psikologi, karakter adalah kepribadian
ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, dan
biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap (Dali Gulo, 1982:
p.29).
3.2
Pengertian
Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter adalah
suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi
komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan
nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri,
sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.
Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus
dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri, yaitu isi
kurikulum, proses pembelajaran dan penilaian, kualitas hubungan, penanganan
atau pengelolaan mata pelajaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaan aktivitas
atau kegiatan ko-kurikuler, pemberdayaan sarana dan prasarana, pembiayaan, dan
ethos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah.
“Pendidikan karakter yang utuh
dan menyeluruh tidak sekedar membentuk anak-anak muda menjadi pribadi yang
cerdas dan baik, melainkan juga membentuk mereka menjadi pelaku baik bagi
perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada gilirannya akan menyumbangkan perubahan
dalam tatanan sosial kemasyarakatan menjadi lebih adil, baik, dan
manusiawi.”(Doni Koesoema A.Ed)
Menurut Dr.
Martin Luther King, yakni ; Intelligence
plus character …. That is the goal of true education (kecerdasan yang berkarakter …..
adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Berpegang pada
pengertian diatas, bahwa pendidikan karakter adalah usaha sadar dan terencana
untuk membangun / membentuk kepribadian yang khas peserta didik, yaitu
kepribadian yang baik yang bercirikan kejujuran, tangguh, cerdas, kepedulian,
bertanggungjawab, kerja keras, pantang putus asa, tanggap, percaya diri, suka
menolong, mampu bersaing, professional, ikhlas bergotong royong, cinta tanah air,
amanah, disiplin, toleransi, taat. dll perilaku yang berakhlak mulia.
Pendidikan Karakter Menurut
Lickona secara sederhana, pendidikan karakter dapat didefinisikan
sebagai segala usaha yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi untuk
mengetahui pengertian yang tepat, dapat dikemukakan di sini definisi pendidikan
karakter yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona menyatakan bahwa pengertian pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu
seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-nilai
etika yang inti.
Menurut T.Ramli (2003), pendidikan karakter itu memiliki esensi dan makna
yang sama dengan pendidikan moral atau pendidikan akhlak. Tujuannya membentuk
pribadi peserta didik , agar menjadi pribadi yang baik, jika di masyarakat
menjadi warga yang baik, dan jika dalam kehidupan bernegara menjadi warga
negara yang baik pula.
Adapun kriteria pribadi yang baik, masyarakat yang baik, dan warga negara
yang baik bagi suatu masyarakat atau bangsa, secara umum adalah nilai-nilai
sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masyarakat dan bangsanya.
Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di
Indonesia adalah pendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang
bersumber dari kebudayaan bangsa itu sendiri.
Pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja untuk mengembangkan
karakter yang baik berdasarkan nilai-nilai inti yang baik untuk individu dan
baik untuk masyarakat. Salah satu lembaga yang yang dapat berperan dalam
pendidikan karakter adalah sekolah. Sebuah lingkungan yang dapat mengubah nilai
menjadi sebuah kebaikan dan mengembangkan kesadaran intelektual menjadi
kebiasaan personal dalam pikiran, perasaan, dan tindakan. (Lickona : 1991)
Pendidkan karakter merupakan respon terhadap kondisi masyarakat Indonesia
bahwa hasil pendidikan nasional dewasa ini belum mengarah, bahkan makin jauh
dari tujuan yang telah dirumuskan dalam UU Sisdiknas tahun 2003. (Madya : 2011)
Adapun pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha ESA, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Menurut Tadkiroatun Musfiroh (2008),
pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
kepada warga sekolah, yang meliputi komponen pengetahuan kesadaran atau
kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Secara singkat,
pendidikan karakter juga dapat dimaknai sebagai: “The deliberate use of all dimentions of school life to foster optimal
character development”.
“Pendidikan karakter yang utuh dan menyeluruh tidak sekedar membentuk
anak-anak muda menjadi pribadi yang cerdas dan baik, melainkan juga membentuk
mereka menjadi pelaku baik bagi perubahan dalam hidupnya sendiri, yang pada
gilirannya akan menyumbangkan perubahan dalam tatanan sosial kemasyarakatan
menjadi lebih adil, baik, dan manusiawi.”(Doni Koesoema A.Ed)
3.3 Tujuan
dan Fungsi Pendidikan Karakter
Tujuan
pendidikan karakter adalah penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata
kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Tujuan jangka
panjangnya tidak lain adalah mendasarkan diri pada tanggapan aktif kontekstual
individu atau impuls natural sosial yang diterimanya, yang pada gilirannya
semakin mempertajam visi hidup yang akan diraih lewat proses pembentukan diri
secara terus-menerus (on going formation).
Tujuan jangka panjang ini merupakan pendekatan dialektis yang semakin
mendekatkan dengan kenyataan yang ideal, melalui proses refleksi dan interaksi
secara terus-menerus.
Pendidikan
karakter juga bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil
pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaina pembentukan karakter dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan
standar kompetensi lulusan. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta
didik mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya,
mengkaji dan menginternalisasi secara mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan
akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. Tujuan mulia
pendidikan karakter ini akan berdampak langsung pada peserta didik.
Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk
bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran,
bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan takwa kepada
Tuhan yang Maha Esa berdasarkan Pancasila.
Tujuan Pendidikan Nasional
merupakan rumusan mengenai kualitas manusia Indonesia yang harus dikembangkan
oleh setiap satuan Pendidikan. Oleh karena itu, rumusan tujuan Pendidikan Nasional menjadi dasar
dalam pengembangan pendidikan karakter. Tujuan Pendidikan Karakter diantaranya
adalah sebagai berikut :
1. Mengembangkan potensi afektif peserta didik sebagai manusia dan
Warga Negara yang memiliki nilai-nilai pancasila.
2. Mengembangkan Kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji
dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan pancasila.
3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai
generasi penerus bangsa.
4. Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang
mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan.
5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan
belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa
kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan. Secara singkatnya pendidikan
karakter bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang
lebih baik, yaitu warga negara yang memiliki kemampuan, kemauan, dan menerapkan
nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan.
Pendidikan Karakter juga
bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada
pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh,
terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi kelulusan. Melalui
pendidikan karakter, diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan
dan menggunakan pengetahuaannya, mengkaji dan menginternalisasi serta
mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam
perilaku sehari-hari.
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
Pendidikan karakter berfungsi untuk:
1. mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik,
dan berperilaku baik
2. memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur
3. meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan
dunia.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
Pendidikan karakter dilakukan melalui berbagai media yang mencakup keluarga, satuan pendidikan, masyarakat sipil, masyarakat politik, pemerintah, dunia usaha, dan media massa.
3.4 Prinsip Pendidikan Karakter
Character
Education Quality Standards merekomendaikan sebelas prinsip untuk mewujudkan
pendidikan karakter yang efektif, sebagai berikut:
1.
Mempromosikan
nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter.
2.
Mengidentifikasikan
karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan dan perilaku.
3.
Mengguanakan
pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter.
4.
Menciptakan
komunitas sekolah yang memiliki kepedulian.
5.
Memberi
kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan perilaku yang baik.
6.
Memiliki
cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua
siswa, membangun karakter mereka dan membantu mereka untuk sukses.
7.
Mengusahakan
tumbuhnya motivasi diri para siswa.
8.
Memfungsikan
seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk
pendidikan karakter yang setia kepada nilai dasar yang sama.
9.
Adanya
pembagian kepimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif
pendidikan karakter.
10. Memfungsikan keluarga
dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter.
11. Mengevaluasi karakter
sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi
karakter positif dalam kehidupan siswa.
Pendidikan karakter didasarkan pada enam nilai-nilai etis bahwa setiap orang dapat
menyetujui – nilai-nilai yang tidak mengandung politis, religius, atau bias
budaya. Beberapa hal di bawah ini yang dapat kita jelaskan untuk membantu siswa
memahami Enam Pilar Pendidikan Berkarakter, yaitu sebagai berikut :
1. Trustworthiness (Kepercayaan)
Jujur, jangan menipu,
menjiplak atau mencuri, jadilah handal – melakukan apa yang anda katakan anda
akan melakukannya, minta keberanian untuk melakukan hal yang benar, bangun
reputasi yang baik, patuh – berdiri dengan keluarga, teman dan negara.
2. Recpect (Respek)
Bersikap toleran terhadap
perbedaan, gunakan sopan santun, bukan bahasa yang buruk, pertimbangkan
perasaan orang lain, jangan mengancam, memukul atau menyakiti orang lain,
damailah dengan kemarahan, hinaan dan perselisihan.
3. Responsibility (Tanggungjawab)
Selalu lakukan yang
terbaik, gunakan kontrol diri, disiplin, berpikirlah sebelum bertindak –
mempertimbangkan konsekuensi, bertanggung jawab atas pilihan anda.
4. Fairness (Keadilan)
Bermain sesuai aturan,
ambil seperlunya dan berbagi, berpikiran terbuka; mendengarkan orang lain,
jangan mengambil keuntungan dari orang lain, jangan menyalahkan orang lain
sembarangan.
5. Caring (Peduli)
Bersikaplah penuh kasih
sayang dan menunjukkan anda peduli, ungkapkan rasa syukur, maafkan orang lain,
membantu orang yang membutuhkan.
6. Citizenship (Kewarganegaraan)
Menjadikan sekolah dan masyarakat menjadi lebih baik, bekerja
sama, melibatkan diri dalam urusan masyarakat, menjadi tetangga yang
baik, mentaati hukum dan aturan, menghormati otoritas, melindungi lingkungan hidup.
3.6 Landasan Pendidikan
Karakter
Dalam perspektif
progresivisme, pendidikan bukanlah sekadar memberikan pengetahuan, lebih dari itu pendidikan
melatih kemampuan berpikir (aspek kognitif). Manusia memiliki kedudukan yang
lebih tinggi dibanding makhluk lain, yaitu dianugerahi akal dan kecerdasan.
Sehingga dengan akal dan kecerdasan tersebut diharapkan manusia atau seseorang
dapat mengetahui, memahami, dan mengembangkan
potensi-potensi yang telah ada pada dirinya sejak dilahirkan. Aliran
inilah yang menjadi dasar atau landasan terbentuknya pendidikan karakter. Pandangan yang mengatakan bahwa manusia memiliki
potensi-potensi dan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah.Progresivisme
yang juga menaruh kepercayaan terhadap kebebasan manusia dalam menentukan
hidupnya, serta lingkungan hidup yang dapat mempengaruhi kepribadiannnya. Beberapa hal yang
terkandung dalam aliran progresivisme
ini kemudian secara mendalam dipikirkan untuk kemudian memunculkan sebuah
paradigma pendidikan yang sedang menjadi primadona paradigma pendidikan dewasa
ini, yang tidak lain adalah pendidikan karakter. Nilai-nilai pendidikan karakter merupakan
nilai-nilai yang dikembangkan dan diidentifikasi dari sumber-sumber Agama,
karena masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama, maka kehidupan individu,
masyarakat, dan bangsa selalu didasari
pada ajaran agama dan kepercayaan. Secara politis, kehidupan kenegaraan
didasari pada nilai yang berasal dari agama. Dan
sumber yang kedua adalah Pancasila. Negara
kesatuan Republik Indonesia ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan
kebangsaan dan kenegaraan yang disebut dengan Pancasila.Pancasila terdapat pada
Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan lebih lanjut lagi dalam pasal-pasal yang
terdapat dalam UUD 1945.Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila
menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi,
kemasyarakatan, budaya dan seni. Sebagai warga negara Indonesia, pendidikan
karakter yang diajarkan harus sejalan dengan karakter bangsa yaitu Pancasila
dan UUD 1945. Pancasila mempunyai tujuan yang salah satunya yaitu sebagai
pandangan hidup bangsa. Bahwa nilai-nilai Pancasila harus selalu dijadikan
landasan pokok dalam berpikir dan berbuat, dan hal ini mengharuskan bangsa
Indonesia untuk merealisasikan nilai-nilai Pancasila itu kedalam sikap dan
perilaku baik dalam perilaku hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Salah satunya dengan menerapkan pendidikan berkarakter. Dengan
berlandaskan pancasila maka tingkah laku
kita akan terlindungi dari hal-hal yang tidak sesuai dengan pancasila, dikarenakan saat ini sudah
berkembang tentang kenakalan remaja dalam masyarakat seperti perkelahian masal
(tawuran). Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional pada pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal
tersebut juga terdapat pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea 4.
3.7 Nilai-Nilai Pembentuk dalam Pendidikan Karakter
Satuan pendidikan sebenarnya selama ini sudah mengembangkan dan
melaksanakan nilai-nilai pembentuk karakter melalui program operasional satuan
pendidikan masing-masing.Hal ini merupakan prakondisi pendidikan karakter pada
satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada saat ini diperkuat dengan 18
nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang
dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.
Ada 18 nilai-nilai dalam pengembangan pendidikan budaya
dan karakter bangsa yang dibuat oleh Diknas. Mulai tahun ajaran
2011, seluruh tingkat pendidikan di Indonesia harus menyisipkan pendidikan
berkarakter tersebut dalam proses pendidikannya.
18 nilai-nilai
dalam pendidikan karakter menurut Diknas adalah:
1.
Religius
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.
2. Jujur
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3.
Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4.
Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja
Keras
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.
6. Kreatif
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
Berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8.
Demokratis
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa
Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.
10.
Semangat Kebangsaan
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta
Tanah Air
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
12.
Menghargai Prestasi
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
13.
Bersahabat/Komunikatif
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
14. Cinta
Damai
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
Sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, serta menghormati keberhasilan orang lain.
15. Gemar
Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli
Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
17. Peduli
Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
18.
Tanggung Jawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk karakter bangsa, namun satuan
pendidikan dapat menentukan prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan
nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari
18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis karakter yang dipilih
tentu akan dapat berbeda antara satu daerah atau sekolah yang satu dengan yang
lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan
masing-masing. Di antara berbagai nilai yang
dikembangkan, dalam pelaksanaannya dapat dimulai dari nilai yang esensial,
sederhana, dan mudah dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing
sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.
3.8 Pentingnya
Pendidikan Karakter
Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut
untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan kognitif. Dengan pemahaman seperti
itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita
sadari telah terabaikan.Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik.
Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif. Beberapa
kenyataan yang sering kita jumpai bersama, seorang pengusaha kaya raya justru
tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang
kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan
yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Itu adalah bukti tidak
adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif dan pendidikan karakter.
Ada sebuah kata bijak mengatakan “ ilmu tanpa agama buta,
dan agama tanpa ilmu adalah lumpuh”. Sama juga artinya bahwa pendidikan
kognitif tanpa pendidikan karakter adalah buta. Hasilnya, karena buta tidak
bisa berjalan, berjalan pun dengan asal nabrak. Kalaupun berjalan dengan
menggunakan tongkat tetap akan berjalan dengan lambat. Sebaliknya, pengetahuan
karakter tanpa pengetahuan kognitif, maka akan lumpuh sehingga mudah disetir,
dimanfaatkan dan dikendalikan orang lain. Untuk itu, penting artinya untuk
tidak mengabaikan pendidikan karakter anak didik.
Pendidikan karakter adalah pendidikan yang menekankan pada
pembentukan nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar
pendidikan karakter yang dirumuskan oleh seorang pencetus pendidikan karakter dari
Jerman yang bernama FW Foerster:
1. Pendidikan karakter menekankan setiap tindakan berpedoman
terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan
berpedoman pada norma tersebut.
2. Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan
keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi pribadi yang teguh pendirian
dan tidak mudah terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi
situasi baru.
3. Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan
aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu,
anak didik mampu mengambil keputusan mandiri tanpa dipengaruhi oleh desakan
dari pihak luar.
4. Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan adalah daya tahan anak
didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar
penghormatan atas komitmen yang dipilih.
Pendidikan karakter penting bagi pendidikan di Indonesia.
Pendidikan karakter akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan karakter
berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial seperti
toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan
sebagainya. Pendidikan karakter akan melahirkan pribadi unggul yang tidak hanya
memiliki kemampuan kognitif saja namun memiliki karakter yang mampu mewujudkan
kesuksesan. Berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat,
ternyata kesuksesan seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan dan
kemampuan teknis dan kognisinyan (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan
mengelola diri dan orang lain (soft skill).
Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan
sekitar 20 persen hard skill dan sisanya 80 persen oleh soft skill. Dan,
kecakapan soft skill ini terbentuk melalui pelaksanaan pendidikan karater pada
anak didik. Berpijak pada empat ciri dasar pendidikan karakter di atas, kita
bisa menerapkannya dalam pola pendidikan yang diberikan pada anak didik.
Misalanya, memberikan pemahaman sampai mendiskusikan tentang hal yang baik dan
buruk, memberikan kesempatan dan peluang untuk mengembangkan dan mengeksplorasi
potensi dirinya serta memberikan apresiasi atas potensi yang dimilikinya,
menghormati keputusan dan mensupport anak dalam mengambil keputusan terhadap
dirinya, menanamkan pada anakdidik akan arti keajekan dan bertanggungjawab dan
berkomitmen atas pilihannya. Kalau menurut saya, sebenarnya yang terpenting
bukan pilihannnya, namun kemampuan memilih kita dan pertanggungjawaban kita
terhadap pilihan kita tersebut, yakni dengan cara berkomitmen pada pilihan
tersebut.
Pendidikan karakter hendaknya dirumuskan dalam kurikulum,
diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu,
di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola
pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan
dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.
Suatu hari seorang anak
laki-laki sedang memperhatikan sebuah kepompong, eh ternyata di dalamnya ada
kupu-kupu yang sedang berjuang untuk melepaskan diri dari dalam kepompong.
Kelihatannya begitu sulitnya, kemudian si anak laki-laki tersebut merasa
kasihan pada kupu-kupu itu dan berpikir cara untuk membantu si kupu-kupu agar
bisa keluar dengan mudah. Akhirnya si anak laki-laki tadi
menemukan ide dan segera mengambil gunting dan membantu memotong kepompong agar
kupu-kupu bisa segera keluar dr sana. Alangkah senang dan leganya si anak laki
laki tersebut.Tetapi apa yang terjadi? Si kupu-kupu memang bisa keluar dari
sana. Tetapi kupu-kupu tersebut tidak dapat terbang, hanya dapat merayap.Apa
sebabnya?
Ternyata
bagi seekor kupu-kupu yang sedang berjuang dari kepompongnya tersebut, yang
mana pada saat dia mengerahkan seluruh tenaganya, ada suatu cairan didalam
tubuhnya yang mengalir dengan kuat ke seluruh tubuhnya yang membuat sayapnya
bisa mengembang sehingga ia dapat terbang, tetapi karena tidak ada lagi
perjuangan tersebut maka sayapnya tidak dapat mengembang sehingga jadilah ia
seekor kupu-kupu yang hanya dapat merayap. Itulah potret singkat tentang
pembentukan karakter, akan terasa jelas dengan memahami contoh kupu-kupu
tersebut. Seringkali orangtua dan guru, lupa akan hal ini. Bisa saja mereka
tidak mau repot, atau kasihan pada anak. Kadangkala Good Intention atau niat baik kita belum tentu menghasilkan sesuatu
yang baik. Sama seperti
pada saat kita mengajar anak kita. Kadangkala
kita sering membantu mereka karena kasihan atau rasa sayang, tapi sebenarnya
malah membuat mereka tidak mandiri. Membuat potensi dalam dirinya tidak berkembang. Memandukan
kreativitasnya, karena kita tidak tega melihat mereka mengalami kesulitan, yang
sebenarnya jika mereka berhasil melewatinya justru menjadi kuat dan
berkarakter.
Sama halnya bagi pembentukan
karakter seorang anak, memang butuh waktu dan komitmen dari orangtua dan
sekolah atau guru untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Butuh
upaya, waktu dan cinta dari lingkungan yang merupakan tempat dia bertumbuh,
cinta disini jangan disalah artikan memanjakan. Jika kita taat dengan proses
ini maka dampaknya bukan ke anak kita, kepada kitapun berdampak positif, paling
tidak karakter sabar, toleransi, mampu memahami masalah dari sudut pandang yang
berbeda, disiplin dan memiliki integritas terpancar di diri kita sebagai
orangtua ataupun guru. Hebatnya, proses ini mengerjakan pekerjaan baik bagi
orangtua, guru dan anak jika kita komitmen pada proses pembentukan karakter.
Segala sesuatu butuh proses, mau jadi jelek pun butuh proses. Anak yang nakal
itu juga anak yang disiplin. Dia disiplin
untuk bersikap nakal. Dia
tidak mau mandi tepat waktu, bangun pagi selalu telat, selalu konsisten untuk
tidak mengerjakan tugas dan wajib tidak menggunakan seragam lengkap.
Karakter
suatu bangsa merupakan aspek penting yang mempengaruhi pada perkembangan
sosial-ekonomi. Kualitas karakter yang tinggi dari masyarakat tentunya akan menumbuhkan
keinginan yang kuat untuk meningkatkan kualitas bangsa. Pengembangan karakter
yang terbaik adalah jika dimulai sejak usia dini. Sebuah ungkapan yang
dipercaya secara luas menyatakan “ jika kita gagal menjadi orang baik di usia
dini, di usia dewasa kita akan menjadi orang yang bermasalah atau orang jahat”.
Thomas Lickona mengatakan
“ seorang anak hanyalah wadah di mana seorang dewasa yang bertanggung jawab
dapat diciptakan”. Karenanya, mempersiapkan anak adalah sebuah strategi
investasi manusia yang sangat tepat. Sebuah ungkapan terkenal mengungkapkan
“Anak-anak berjumlah hanya sekitar 25% dari total populasi, tapi menentukan
100% dari masa depan”. Sudah terbukti bahwa periode yang paling efektif untuk
membentuk karakter anak adalah sebelum usia 10 tahun. Diharapkan pembentukan
karakter pada periode ini akan memiliki dampak yang akan bertahan lama terhadap
pembentukan moral anak.
Efek
berkelanjutan (multilier effect) dari pembentukan karakter positif anak akan
dapat terlihat, seperti yang digambarkan oleh Jan Wallander, “Kemampuan sosial
dan emosi pada masa anak-anak akan mengurangi perilaku yang beresiko, seperti
konsumsi alkohol yang merupakan salah satu penyebab utama masalah kesehatan
sepanjang masa; perkembangan emosi dan sosial pada anak-anak juga dapat
meningkatkan kesehatan manusia selama hidupnya, misalnya reaksi terhadap
tekanan yang akan berdampak langsung pada proses penyakit; kemampuan emosi dan
sosial yang tinggi pada orang dewasa yang memiliki penyakit dapat membantu
meningkatkan perkembangan fisiknya.”
Sangatlah
wajar jika kita mengharapkan keluarga sebagai pelaku utama dalam mendidik
dasar–dasar moral pada anak.Akan tetapi banyak anak, terutama anak-anak yang
tinggal di daerah miskin, tidak memperoleh pendidikan moral dari orang tua mereka.
Kondisi
sosial-ekonomi yang rendah berkaitan dengan berbagai permasalahan, seperti
kemiskinan, pengangguran, tingkat pendidikan rendah, kehidupan bersosial yang
rendah, biasanya berkaitan juga dengan tingkat stres yang tinggi dan lebih jauh
lagi berpengaruh terhadap pola asuhnya.Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
anak-anak yang tinggal di daerah miskin 11 kali lebih tinggi dalam menerima
perilaku negatif (seperti kekerasan fisik dan mental, dan ditelantarkan)
daripada anak-anak dari keluarga yang berpendapatan lebih tinggi.
Banyak
hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang telah mendapat pendidikan
pra-sekolah mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak
masuk ke TK, terutama dalam kemampuan akademik, kreativitas, inisiatif, motivasi,
dan kemampuan sosialnya. Anak-anak yang tidak mampu masuk ke TK umumnya akan
mendaftar ke SD dalam usia sangat muda, yaitu 5 tahun. Hal ini akan
membahayakan, karena mereka belum siap secara mental dan psikologis, sehingga
dapat membuat mereka merasa tidak mampu, rendah diri, dan dapat membunuh
kecintaan mereka untuk belajar. Dengan demikian sebuah program penanganan
masalah ini dibutuhkan untuk mempersiapkan anak dengan berbagai pengalaman
penting dalam pendidikan prasekolah.Adalah hal yang sangat penting untuk
menggerakkan masyarakat di daerah miskin untuk mulai memasukkan anaknya ke
prasekolah dan mengembangkan lingkungan bersahabat dengan TK lainnya untuk
bersama-sama melakukan pendidikan karakter.
Dorothy Law Nolte pernah
menyatakan bahwa anak belajar dari kehidupan lingkungannya. Lengkapnya
adalah :
Ø Jika
anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyeasali diri.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri.
Ø Jika
anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan
cinta dalam kehidupan.
3.10
Pengertian Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan adalah dimana manusia dewasa (pendidik)
dan manusia belum dewasa (anak didik) bersama-sama hidup dalam suatu kesatuan
hidup tertentu di dalam suatu lingkungan sekitar (milieu). Lingkungan sekitar (milieu) mencangkup :
a.
Tempat (lingkungan fisik) keadaan iklim, keadaantanah,
keadaan alam ;
b.
Kebudayaan (lingkungan budaya) : dengan warisan budaya
tertentu : bahsa, seni, ekonomi, ilmu pengetahuan, pandangan hidup, keagamaan ;
c. Kelompok hidup
bersama (lingkungan sosial/masyarakat) : keluarga, kelompok bermain,desa,
perkumpulan.
Lingkungan sekitar mempengaruhi
perkembangan anak. Lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai
alat dalam proses pendidikan (pakaian, keadaan rumah, alat permainan,
buku-buku, alat peraga, dan lainnya )
dinamakan lingkungan pendidikan. (Langeveld : 1971)
Penggolongan lingkungan
pendidikan menurut Ki Hajar Dewantoro
a.
Lingkungan Masyarakat : Lingkungan Pendidikan
Jika dilihat dari segi anak didik nampak bahwa anak didik
secara tetap hidup di dalam lingkungan masyarakat tertentu tempat ia menagalami
pendidikan. Lingkungan-lingkungan menurut Ki Hajar Dewantoro (Tri Pusat
Pendidikan) ialah :
Ø Lingkungan Keluarga
Ø Lingkungan Sekolah
Ø Lingkungan
Organisasi Pemuda
b. Lingkungan Keluarga
Keluarga merupakan lembaga sosial resmi (menurut
undang-udang Perkawinan). Anggota keluarga adalah ayah, ibu, dan anak-anak.
Ikatan keluarga ialah cinta kasih suami istri, yang melahirkan anak-anak. Orang
tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi anak dan mendidik agar
tumbuh dan berkembang dengan baik. Keluarga
merupakan kesatuan hidup bersama yang pertama dikenal oleh anak, dan
karena itu disebut primary community
(lingkungan pendidikan utama). (Bernadib, Sutari Imam : 1986)
c. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lembaga sosial formal yang didirikan
berdasarkan undang-undang negara sebagai tempat atau lingkungan pendidikan.
Sekolah di satu pihak mewakili negara
dan pihak lain mewakili orang tua atau masyarakat setempat. Di dalam kehidupan
bersekolah anak meneruskan pendidikan yang sudah diterima olehnya di dalam
keluarga. Dan berusaha mengembangkan dirinya sebagai warga negara yang baik
sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pandangan hidup bangsa
negara. Lingkungan sekolah merupakan pendidikan utama yang kedua siswa-siswi,
guru, administrator, konselor hidup bersama dan melaksanakan pendidikan secara
teratur dan terencana.
d. Lingkungan
Organisasi Pemuda
Organisasi pemuda baik yang informal seperti kelompok
bermain, kelompok sebaya, yang dibentuk oleh anak-anak atau pemuda di dalam
lingkungan tempat tinggal mereka dan dibimbing oleh orang dewasa, maupun yang
formal diusahakan oleh pemerintah atau lembaga swata lainnya, memberikan kepada
anak-anakdan pemuda untuk mengembangkan kesadaran sosial, kecakapan sosial
dalam bergaul, keterampilan dan pengetahuan. (Suwarno : 1985 , 76)
Dalam GBHN 1983 ditegaskan :
“Pengembangan
wadah-wadah pembinaan generasi muda seperti organisasi siswa intra sekolah
(OSIS) dan organisasi mahaiswa di perguruan tinggi, organisasi pemuda seperti
antara lain KNPI, Pramuka, Karang Taruna, Organisasi Olahraga, dan lainnya
perlu ditingkatkan secara tearah dan teratur.
Untuk itu perlu selalu
dipelihara suasana yang sehat agar kreativitas dan tanggung jawab semakin berkembang
serta diusahakan bertambahnya fasilitas dan sarana yang memungkinkan
peningkatan dan pengembangan generasi
muda”.
Dalam lingkungan organisasi pemuda, anak dan pemuda
mengalami pendidikan juga. Organisasi pemuda merupakan lingkungan pendidikan ketiga.
3.11 Pendidikan
Karakter Di Lingkugan Keluarga
Lingkungan rumah dan keluarga memiliki andil yang sangat
besar dalam pembentukkan perilaku anak. Untuk itu, pastilah ada usaha yang
harus dilakukan terutama oleh pihak-pihak yang terkait didalamnya sehingga
mereka akan memiliki tanggung jawab dalam hal ini.
Beberapa contoh kebiasaan yang
dapat dilakukan dilingkungan keluarga :
Ø Membiasakan anak
bangun pagi, mengatur tempat tidur dan berolahraga
Ø Membiasakan anak
mandi dan berpakaian bersih
Ø Membiasakan anak
turut membantu mengerjakan tugas-tugas rumah
Ø Membiasakan anak
mengatur dan memelihara barang-barang yang dimilikinya
Ø Membiasakan dan
mendampingi anak belajar atau mengulang pelajaran atau mengerjakan tugas
sekolahnya
Ø Membiasakan anak
pamit jika keluar rumah
Ø Membiasakan anak
mengucapkan salam saat keluar dari dan pulang ke rumah
Ø Menerapkan
pelaksanaan ibadah sholat sendiri atau jamaah
Ø Mengadakan
pengajian Alquran dan ceramah agama dalam keluarga
Ø Menerapkan
musyawarah dan mufakat dalam keluarga sehingga dalam diri anak tumbuh jiwa
demokratis
Ø Membiaskan anak
bersikap sopan santun kepada orang tua atau tamu
Ø Membiasakan anak
menyantuni anak yatim dan fakir miskin
Kendala-kendala yang dihadapi
dalam keluarga:
Ø Tidak ada atau
kurangnya keteladanan atau contoh penerapan yang diberikan oleh orang tua
Ø Orang tua atau
salah satu anggota keluarga (orang dewasa) yang tidak konsisten dalam
melaksanakan usaha yang sedang diterapkan
Ø Kurang terpenuhinya
kebutuhan anak dalam keluarga, baik secara fisik maupun psikhis sebab ada
ungkapan yang menyatakan bahwa “kepatuhan anak berbanding sama dengan kasih
sayang yang diterimanya”
Ø Tempat tinggal yang
tidak menetap
3.12 Pendidikan
Karakter Di Lingkungan Sekolah
Jika di lingkungan rumah atau keluarga anak dapat
dikatakan “menerima apa adanya” dalam menerapkan sesuatu perbuatan, maka
dilingkungan sekolah sesuatu hal menjadi “mutlak” adanya, sehingga kita sering
mendengar anak mengatakan kepada orang tuanya “mah, pah kata bu guru atau pak
guru begini bukan begitu”. Ini menunjukkan bahwapengaruh sekolah sangat besar
dalam membentuk pola pikir dan karakter anak, namun hal ini pun bukanlah
sesuatu yang mudah tercapai tanpa ada usaha yang dilakukan untuk menjadi “Bapak
dan Ibu” guru seperti ilustrasi di atas butuh keteladanan dan konsistensi
perilaku yang patut diteladani.
Contoh-contoh perilaku yang dapat diterapkan di sekolah :
Ø Membiasakan siswa
berbudaya salam, sapa dan senyum
Ø Tiba di sekolah
mengucap salam sambil salaman dan cium tangan guru
Ø Menyapa teman,
satpam, penjual di kantin atau cleaning
service di sekolah
Ø Menyapa dengan
sopan tamu yang datang ke sekolah
Ø Membiasakan siswa
berbicara dengan bahasa yang sopan dan santun
Ø Mendidik siswa
duduk dengan sopan di kelas
Ø Mendidik siswa
makan sambil duduk di tempat yang sudah disediakan, tidak sambil jalan-jalan
Ø Membimbing dan
membiasakan siswa sholat Dhuha dan sholay dzuhur berjamaah di sekolah
Kendala-kendala yang dihadapi
di sekolah :
Ø Tidak ada atau
kurangnya keteladanan contoh yang diberikan
Ø Guru yang tidak
konsisten dalam melaksanakan aturan yang telah ditetapkan
Ø Lingkungan sekolah
yang tidak kondusif untuk pembelajaran
3.13 Pendidikan
Karakter Di Lingkungan Masyarakat
Masyarakat pun memiliki peran yang tidak kalah pentingnya
dalam upaya pembentukkan karakter anak bangsa. Dalam hal ini yang dimaksud
masyarakat adalah orang yang lebih tua yang “tidak dekat” , “tidak dikenal” dan
“tidak memiliki ikatan family” dengan anak tetapi saat itu ada di lingkungan
sang anak atau melihat tingkah laku sang anak. Orang-orang inilah yang dapat
memberikan contoh, mengajak atau melarang anak dalam melakukan suatu perbuatan.
Contoh-contoh perilaku yang
dapat diterapkan oleh masyarakat :
Ø Membiasakan gotong
royong, misalnya membersihkan halaman rumah masing-masing, membersihkan saluran
air, menanami pekarangan rumah
Ø Membiasakan anak
tidak membuang sampah dan meludah di jalan, merusak atau mencoret-coret
fasilitas umum
Ø Menegur anak yang
melakukan perbuatan tidak baik
Kendala-Kendala yang dihadapi masyarakat
:
Ø Tidak ada
kepedulian
Ø Tidak merasa
bertanggung jawab
Ø Menganggap
perbuatan anak adalah yang sudah biasa
3.14 Pendidikan
Karakter Oleh Pemerintah
Pemerintah sudah tentu memiliki andil yang besar dalam
pembentukka karakter anak bangsa sebab berbagai kebijakan terlahir dari para
penetu kebijakan. Namun kadang kala ada kebijakan atau aturan yang justru tidak
disadari dapat memupuk perilaku anak yang tidak baik, contohnya :
Ø Membuka tempat-tempat hiburan atau
taman-taman wisata yang tidak ada pengawasan yang ketat, misalnya ada batas jam
malam berkunjung, razia KTP bagi yang berpasangan, dan lain sebagainnya.
Ø Menetapkan peraturan tidak merokok di tempat
umum atau tertentu, namun saat berdialog langsung dengan para siswa, seorang
pejabat justru sambil merokok tidak henti-hentinya atau saat melakukan rapat di
ruangan ber AC para pejabat sambil berasap ria
Ø Menekankan disiplin untuk semua kegiatan,
tapi kenyatannya masih banyak yang menggunakan “jam karet”
Ø Memberikan izin penayangan film-film yang
bertajuk film anak di televisi namun tidak memiliki nilai didaktis didalamnya
padahal televisi adalah media yang sangat dekat dengan anak
3.15 Peran Karakter
Untuk Membangun Bangsa
Kata karakter sudah sering disebutkan dan dipahami arti
harfiahnya oleh orang banyak, namun pada kenyataannya masih banyak di antara
kita yang mengabaikannnya (neglect).
Karakter itu perlu denga sengaja dibangun, dibentuk, ditempa, dan dikembangkan
serta dimantapkan. Kita tahu bahwa dalam membangun karakter sangat dipengaruhi
oleh kondisi lingkungan, baik lingkungan kecil di rumah, di masyarakat, dan
selanjutnya meluas di kehidupan berbangsa dan bernegara bahkan di kehidupan
global. Penampilan seseorang secara utuh dapat digambarkan dengan suatu simbol
yang berisi tiga lapis. Lapis yang paling luar menunjukkan kepribadian yang
ditampilkan dalam keseharian (yang juga berisi identitas dan temepramen), lapis
kedua adalah karakter, dan lapis ketiga adalah jati diri.
Kepribadian yang kita tampilkan dalam keseharian belum
menampilkan karakter kita yang sesungguhnya. Mengenal karakter seseorang membutuhkan
waktu yang cukup lama. Karakter diartikan sebagai kumpulan tata nilai yang
mewujud dalam suatu sistem daya dorong (daya juang) yang melandasi pemikiran,
sikap dan perilaku yang akan ditampilkan secara mantap.
Karakter
merupakan aktualisasi potensi diri dalam dan interealisasi nilai-nilai moral
dari luar menjadi bagian kepribadiannya.
Karakter merupakan nilai-nilai yang terpatri dalam diri
kita melalui pendidikan, pola asuh, pengalaman, percobaan, pengorbanan, dan
pengaruh lingkungan menjadi nilai intrinsik yang melandasi sikap dan perilaku
kita.
Jadi, karena karakter harus diwujudkan melalui nilai-nilai
moral yang dipatrikan untuk menjadi semacam nilai instrinsik dalam diri kita,
yang akan melandasi sikap dan perilaku kita. Tentu karakter tidak datang dengan
sendirinya melainkan harus kita bentuk. Kita tumbuhkembangkan dan kita bangun
secara sadar dan sengaja.
Keterkaitan antara jati diri, karakter, dan perilaku
sebagai suatu proses dapat digambarkan sebagai berikut. Berawal dari jati diri
yang merupakan fitrah manusia, yang mengandung sifat-sifat dasar yang diberikan oleh Tuhan dan merupakan
potensi yang dapat memancardan ditumbuhkembangkan. Jati diri yang merupakan
potensi itu adalah diibaratkan sebagai sebuah batu permata yang belum
terbentuk, yang perlu dipotong, diasah, dan digosok untuk dapat memancar
sebagai permata yang bersinar. Memotong,
mengasar dan menggosok adalah wujud dari pembangunan karakter, melalui pengaruh
lingkungan, upaya mengaktualisasikan potensi dari dalam dan adanya
internalisasi nilai-nilai dari luar serta kemauan pribadi yang bersangkutan.
Ini yang akan menghasilkan karakter atau batu permata yang akan bersinar secara
cemerlang. Karakter inilah yang akan melandasi sikap dan perilaku kita yang
dapat menghasilkan tampilnya perilaku seperti budi pekerti atau akhlak maupun
penampilan bermoral yang memiliki daya juang untuk mencapai suatu tujuan yang
mulia. Jadi, seorang yang berkarakter tidak cukup hanya sebagai seorang yang
baik semata-mata , tetapi juga orang yang berkarakter adalah orang yang baik
sekaligus mampu menggunakan nilai baik tersebut melalui suatu daya juang
mencapai tujuan mulia yang dicanangkan.
Kalau karakter tidak dibangun maka rongga yang ada sebagai
tempat landasan sikap dan perilaku besar kemungkinan akan diisi oleh hawa nafsu
bahkan mungkin setan yang merajalela.
Dalam pembangunan karaketr paling tidak ada empat koridor
yang perlu dilakukan, yaitu :
1.
Mengintergasikan tata nilai
2.
Menyadari mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (the does and doesn’t)
3.
Membentuk kebiasaan (habits
forming)
4.
Menjadi teladan (role
mode) sebagai pribadi berkarakter
Apabila kita melihat pembangunan karakter yang merupakan
proses tiada henti, dalam kehidupan kita dapat dibagi dalam empat tahapan
pembangunan karakter, yaitu :
1.
Pada usia dini,
kita sebut sebagai tahap pembentukkan
2.
Pada usia remaja, kita sebut tahap pengembangan
3.
Pada usia dewasa, kita sebut tahap pemantapan
4.
Pada usia tua, kita sebut tahap pembijaksanaan
Pembangunan karakter dapat dilakukan dengan mengawali
dari diri sendiri, lalu keluarga kita dan setrusnya yang bersifat bottom up dan bernuara pada diwujudkannya bangsa yang berkarakter
kuat sehingga dapat diwujudkan kondisi ketahanan nasional yang kuat dan
tangguh. Langkah ini akan berhasil tetapi dalam jangka waktu yang sangat lama.
Untuk itu, perlu dibarengi dengan langkah top
down yang dilakukan melalui keteladanan dan adanya kebijaksanaan pemerintah
yang mengatur tentang pembangunan karakter.
KESIMPULAN
Pendidikan karakter harus diterapkan sedini mungkin
kepada anak-anak, agar anak-anak dapat dibentuk kepribadian yang baik, sehingga
menimbulkan karakter yang baik pula, sehingga mereka dapat menemukan jati diri
mereka sendiri. Dengan bantuan lingkungan pendidikan yaitu, lingkungan
keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat yang menjadi pembentuk
karakter masing-masing anak. Setiap anak harus ditanami pendidikan karakter
yang baik dahulu di lingkungan keluarga, karena lingkungan keluarga merupakan
lingkungan pertama dimana anak itu tumbuh dan berkembang. Kemudian lingkungan
sekolah dimana anak mencotohkan figur bapak atau ibu guru, yang harus
mencontohkan karakter yag berbudi pekerti yang baik. Selanjutnya di lingkungan
masyarakat, dimana anak belajar berbagai banyak hal dari dalam segi kehidupan.
Pendidikan karakter akan berjalan sukses jika semua lingkungan pendidikan
berjalan bersama dalam satu tujuan menjadikan bangsa yang berkarakter.
DAFTAR
PUSTAKA
Wibowo, Agung dan Sigit Purnama.
2013. Pendidikan Karakter Di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Mustakim,
Bagus. 2012. Pendidikan Karakter
Membangun Delapan Karakter Emas Menuju Indonesia Bermatabat. Yogyakarta:
Samudra Biru.
Salahudin,
Anas dan Irwanto Alkrienciehie. 2013. Pendidikan
Karakter (Pendidikan Berbasis Agama dan Budaya Bangsa). Bandung: CV Pustaka
Setia.
Aqib,
Zainal. 2011. Pendidikan Karakter
Membangun Perilaku Positif Anak Bangsa.
Bandung: CV Yrama Widya
Naim,
Ngainun. 2012. Character Building.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Asmani, Jamal Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internasional Pendidikan
Karakter di Sekolah. Jogjakarta: Diva Press (Anggota IKAPI)
Samani, Muchlas dan Hariyanto.
2011. Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Meilanie, Sri Martini. 2013. Pengantar Ilmu Pendidikan. Jakarta:
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta
0 komentar:
Posting Komentar